Hujan Deras Ubah Desa Menjadi Kawasan Rawan
Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, beberapa hari terakhir memicu bencana tanah bergerak di dua dusun Desa Payungagung. Kejadian tersebut terjadi pada Senin, 10 November 2025, sekitar pukul 15.00 WIB, dan hingga kini kondisi tanah masih terus bergeser.
Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa bencana hidrometeorologi tidak bisa dianggap sepele. Curah hujan tinggi membuat tanah menjadi lembap dan jenuh air, sehingga lapisan tanah di wilayah perbukitan tidak lagi stabil. Akibatnya, puluhan rumah warga rusak, dan ratusan orang kini harus meninggalkan tempat tinggal mereka.
Kepala Desa Payungagung, Muhamad Haris Nasution, menjelaskan bahwa pergerakan tanah melanda dua dusun, yaitu Dusun Limusagung dan Dusun Pamekaran. Di Limusagung, dua rumah rusak berat dan sedang, dengan total enam jiwa terdampak langsung. Sementara di Pamekaran, dampaknya jauh lebih besar dengan puluhan rumah rusak dalam berbagai kategori.
Ratusan Jiwa Terpaksa Mengungsi
Berdasarkan data sementara, sebanyak 68 kepala keluarga atau 191 jiwa harus mengungsi untuk menghindari risiko yang lebih besar. Mereka menempati rumah kerabat, madrasah, dan beberapa tempat penampungan sementara yang telah disiapkan.
Untuk memperjelas kondisi, berikut tabel ringkasan kerusakan yang berhasil dihimpun dari dua dusun terdampak:
| Dusun | Rusak Berat | Rusak Sedang | Rusak Ringan | Jumlah KK | Jumlah Jiwa |
|---|---|---|---|---|---|
| Limusagung | 1 | 1 | – | 2 | 6 |
| Pamekaran | 8 | 5 | 34 | 57 | 158 |
| Total | 9 | 6 | 34 | 59 | 164 |
Selain puluhan rumah, satu masjid juga dilaporkan terancam akibat retakan tanah yang terus melebar setiap harinya. Warga tampak sibuk memindahkan perabotan dan barang berharga ke tempat aman. Pada malam hari, sebagian besar memilih bermalam di tempat pengungsian, karena kondisi rumah sudah retak parah, miring, dan membahayakan.
BPBD Ciamis Bergerak Cepat di Lokasi
Kepala Desa Payungagung, Haris Nasution, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada BPBD Kabupaten Ciamis dan aparat setempat yang sigap membantu warga. Tim BPBD langsung turun ke lokasi untuk melakukan evakuasi, pendataan, dan memberikan bantuan darurat seperti sembako, selimut, dan tikar.
“Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD dan semua pihak untuk penanganan cepat. Warga butuh perlindungan dan bantuan logistik,” ujar Haris.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Ciamis, Ani Supiani, menjelaskan bahwa kejadian tanah bergerak tersebut disebabkan oleh peningkatan kadar air tanah akibat curah hujan yang terus-menerus. Tanah yang lembap menjadi jenuh dan kehilangan kekuatannya untuk menopang lapisan di atasnya.
“Fenomena seperti ini memang sering terjadi di daerah perbukitan dengan kemiringan tinggi. Curah hujan ekstrem membuat tanah bergeser perlahan, lalu menimbulkan retakan besar,” ujarnya.
Wilayah Rawan dan Catatan Bencana Sebelumnya
Desa Payungagung memang dikenal sebagai salah satu wilayah rawan pergerakan tanah di Kabupaten Ciamis. Berdasarkan catatan BPBD, fenomena serupa sudah pernah terjadi pada Februari 2010, April 2015, Maret 2016, Februari 2018, dan April 2024. Pola kejadian ini menunjukkan bahwa daerah tersebut membutuhkan penanganan permanen, bukan sekadar tanggap darurat.
Selain kontur tanah yang miring, wilayah ini juga dikelilingi oleh lereng dan tebing yang mudah longsor saat diguyur hujan. Karena itu, pemerintah desa bersama BPBD tengah mengkaji langkah antisipatif, termasuk pembangunan tanggul penahan tanah dan perbaikan sistem drainase untuk mengurangi potensi pergerakan.
Hingga kini, petugas masih siaga 24 jam di lokasi. Mereka memantau perkembangan retakan yang terus meluas dan memastikan tidak ada warga yang kembali ke rumah sebelum kondisi stabil. Warga pun diimbau untuk tetap waspada, karena intensitas hujan di Ciamis masih cukup tinggi.
Gotong Royong dan Harapan Pemulihan
Di tengah situasi sulit ini, warga Desa Payungagung menunjukkan semangat gotong royong yang luar biasa. Mereka saling membantu memindahkan barang, memperkuat bangunan, dan menyiapkan tempat berlindung sementara.
Meskipun banyak rumah rusak, semangat kebersamaan tetap terjaga. Beberapa warga juga menerima bantuan dari organisasi sosial dan relawan yang datang dari wilayah sekitar Ciamis. Dukungan ini menjadi penguat bagi para korban yang kini hidup dalam ketidakpastian.
Masyarakat berharap pemerintah segera memberikan solusi jangka panjang. Mereka khawatir bencana tanah bergerak di Ciamis akan terus berulang setiap musim hujan datang. Kesadaran untuk menjaga lingkungan dan memperbaiki sistem air permukaan kini menjadi fokus utama warga agar tragedi ini tak terulang kembali.
Kesimpulan:
Bencana tanah bergerak di Payungagung menjadi pengingat penting akan pentingnya mitigasi dini di daerah rawan. Dengan sinergi antara pemerintah, BPBD, dan masyarakat, diharapkan bencana seperti ini bisa dicegah atau setidaknya diminimalkan dampaknya di masa depan.
